
Pati, 22 Desember 2025, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyelenggarakan Kegiatan Seminar Kesehatan dengan tema Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Kegiatan ini digelar di aula STIKes Bakti Utama Pati, dilakukan sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan kepedulian mahasiswa terhadap isu kesehatan yang masih diselimuti stigma.

Seminar ini bertujuan untuk memberikan edukasi yang benar dan berbasis fakta mengenai HIV/AIDS, mulai dari pengertian, cara penularan, pencegahan, hingga pentingnya dukungan sosial bagi ODHA. Kegiatan seminar ini dihadiri oleh 162 orang peserta yang berasal dari beragam institusi pendidikan dan komunitas. Peserta tidak hanya terdiri dari mahasiswa STIKes Bakti Utama Pati, namun juga dari MAN 1 Pati, SMA Negeri 3 Pati, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati, serta komunitas Rumah Matahari. Banyaknya peserta mencerminkan antusiasme yang tinggi dari pelajar, mahasiswa, dan komunitas dalam memahami isu HIV/AIDS serta pentingnya dukungan psikososial bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).



Penyampaian materi oleh dr.Nabila Syifa Marta Widanti Sp.Kj tentang dukungan psikososial kepada ODHA, sangat memberikan dampak yang positif karena materi yang disampaikan menyenangkan dan memberikan dampak positif bagi para peserta untuk memberikan dukungan positif bagi ODHA, selain itu dr.Nabila melatih para peserta untuk berlatih relaksasi saat pikiran sedang terasa penuh yang membuat seminar menjadi seru dan penuh pengalaman.

Adapun Zulfia dari program studi S1 Kebidanan semester 3 yang melontarkan pertanyaan tentang dukungan seperti apa yang dibutuhkan ODHA agar mampu bertahan dan berdaya. dr Nabila menegaskan bahwa dukungan yang paling besar adalah dukungan moril atau support.


Narasumber kedua yaitu Hendrik Ari Kristiawan, S.Pi,M.Sc menegaskan bahwa ODHA bukan untuk dijauhi, melainkan perlu didukung agar dapat menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan bermartabat.

Septia, mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan semester 3, mengajukan pertanyaan kepada narasumber Hendrik yang merupakan penyintas HIV selama 12 tahun. Dalam sesi tanya jawab, Septia menanyakan apakah narasumber pernah mengalami stigma dari masyarakat maupun orang terdekat, serta bentuk stigma yang paling sering diterima selama menjalani pengobatan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Hendrik mengungkapkan bahwa stigma sosial masih menjadi tantangan besar bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Ia mengaku kerap menerima perlakuan diskriminatif, mulai dari julukan yang tidak pantas hingga anggapan bahwa dirinya telah meninggal dunia akibat perubahan fisik yang dialaminya. Meski demikian, pengalaman tersebut justru memperkuat tekadnya untuk bertahan. Saat ini, Hendrik aktif berbagi informasi dan memberikan dukungan kepada sesama ODHA agar tetap optimistis menjalani hidup serta konsisten dalam pengobatan.

Melalui penyelenggaraan seminar ini, BEM berharap mahasiswa dapat menjadi pelopor dalam menyebarkan edukasi yang benar tentang HIV/AIDS serta turut menciptakan lingkungan kampus yang peduli, dan bebas dari stigma terhadap ODHA.
Ulya Alfiana_Diploma Tiga Kebidanan
